Sumber Foto: Google 

Tahun: 2020

Sutradara: Jim Taihuttu

Skenario: Mustafa Duygulu, Jim Taihuttu

Pemeran: Martijn Lakemeier, Marwan Kenzari, Jonas Smulders, Joes Brauers, Jim Deddes

Produser: Sander Verdonk, Julius Ponten, Shanty Harmayn

Sinopsis 

Film ini menceritakan tentang seorang tentara muda Belanda yang ditugaskan untuk menekan kemerdekaan Indonesia pasca perang dunia II. Film ini menyorot perisitiwa pasca kemerdekaan dalam kacamata (versi) Belanda.

Lebih detail, De Oost menceritakan sosok protagonis Johan De Vries (diperankan Martijn Lakemeier), seorang tentara muda Belanda, anak buah Raymond Westerling (diperankan Marwan Kenzari) yang ditugaskan dalam operasi melawan pasukan anti-gerilya di Sulawesi Selatan.

Selama bertugas, Johan menyaksikan pembantaian yang dilakukan Westerling yang justru mengguncang mental dan batin (nurani Johan) hingga membuatnya membelot. Pergolakan batin Johan mulai terlihat ketika ia merasa apa yang dilakukan Westerling terhadap masyarakat Indonesia terlalu berlebihan. 

Tembakan demi tembakan kepada warga kampung di Sulawesi Selatan yang dituding sebagai pemberontak Belanda meninggalkan trauma dan rasa bersalah pada Johan. 

Sejumlah sejarawan Indonesia menyebut, ada sekitar 40.000 korban pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. Sementara di Belanda, jumlah korban yang dilaporkan adalah sekitar 3.000 orang.

Kekurangan

Film ini menggunakan alur cerita maju mundur yang mungkin membuat penonton kebingungan. Selain itu, film ini juga kurang menjelaskan mana pihak antagonis dan protagonis. Pejuang Indonesia juga dikiaskan sebagai pemberontak yang kejam sehingga perlu mendapatkan hukuman yang setimpal. 

Film ini dikritik sejumlah pihak di Belanda karena dinilai melukai hati para veteran yang ikut dalam peperangan di Indonesia. Keluarga Westerling juga menilai film tersebut sebagai upaya memutarbalikkan fakta sejarah Westerling. 

Kelebihan

Secara keseluruhan film ini menguak sebuah sejarah Indonesia yang jarang sekali diinformasikan. Alur ceritanya juga tidak tertebak sama sekali ditambah dengan teka-teki ending (akhir cerita) yang justru membuat penonton penasaran dan menambah kesan misterius dalam endingnya.

Film ini juga disambut baik para sejarawan Belanda dan Indonesia. Filmnya dinilai berani. Tokoh Johan dalam film juga dinilai sebagai cermin yang baik bagi sejarah Belanda. 

Saran

Secara keseluruhan film yang diangkat dari kisah nyata yang kemudian didramatisir ini memuat sejarah Indonesia dimata Belanda yang perlu diketahui banyak orang. Ada banyak pelajaran dan pengetahuan tentang sejarah yang bisa diambil dari film ini. Film ini cocok ditonton saat weekend namun tidak disarankan untuk usia 21 kebawah.


Penulis: Zahra

Editor: Ega Adriansyah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama