Film Max Havelaar merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Film tersebut dipilih karena pernah dicekal pada era Orde Baru dan mengangkat tema kolonialisme dari sudut pandang yang berbeda.
Usai pemutaran film, peserta mengikuti sesi diskusi yang menghadirkan sejarawan dan budayawan Mustaqim Asteja sebagai pemateri. Diskusi membahas sejarah kolonialisme di Indonesia, mulai dari masa kedatangannya hingga bentuk-bentuk kolonialisme yang dinilai terus berevolusi pada era modern.
Pembahasan juga menyoroti pengaruh novel Max Havelaar terhadap sejarah Indonesia. Novel satir yang terbit pada 1860 itu dibahas sebagai salah satu karya yang mendorong lahirnya kebijakan Politik Etis pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Kebijakan tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang melahirkan kaum terpelajar sebagai cikal bakal pergerakan nasional. Pembahasan ini menjadi salah satu poin yang mengemuka selama sesi diskusi.
Inisiator kegiatan, Alfarel, mengatakan pemilihan film Max Havelaar dilatarbelakangi keinginan memperkenalkan film yang belum banyak dikenal oleh generasi muda. Menurutnya, banyak mahasiswa maupun masyarakat yang belum mengetahui keberadaan film tersebut meski mengangkat tema penjajahan, kolonialisme, dan nasionalisme.
“Jadi karena Max Havelaar ini kan film yang pernah dicekal dan gak banyak mahasiswa gen Z atau bahkan ya masyarakat Indonesia secara umum juga mungkin baru denger ada film berjudul Max Havelaar yang mengangkat isu terkait tema penjajahan, kolonialisme, dan apa sih arti dari nasionalisme itu.”
Alfarel mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal dari program Reviewing The Controversial Movie. Program itu, kata dia, akan dilanjutkan dengan pemutaran dan diskusi film-film lain yang dinilai mampu membuka ruang dialog mengenai sejarah dan berbagai isu sosial.
Menurut Alfarel, salah satu alasan Max Havelaar sempat menuai kontroversi adalah karena film tersebut menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari narasi kolonialisme yang selama ini lebih dikenal masyarakat.
Ia mengatakan diskusi tidak dimaksudkan untuk mengubah fakta sejarah, melainkan mengajak peserta melihat kolonialisme dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, pembahasan juga menyinggung berbagai pengaruh kolonialisme terhadap perkembangan pemikiran dan pembentukan identitas masyarakat, termasuk lahirnya berbagai gagasan yang kemudian berkembang di Indonesia.
“Tapi nggak semua yang kita pahami tentang kolonialisme itu hanya buruknya saja. Ada sisi-sisi yang dimana ya sebenarnya itu juga berpengaruh terhadap pembentukan identitas kita.”
Alfarel menilai sejarah akan lebih mudah dipahami apabila dilihat dari berbagai sudut pandang. Karena itu, forum diskusi dihadirkan sebagai ruang alternatif literasi yang mendorong peserta untuk mengkritisi sekaligus membandingkan berbagai narasi sejarah.
Sebagai moderator diskusi, ia juga menyampaikan bahwa pembahasan film Max Havelaar diharapkan dapat memunculkan kesadaran bahwa masih banyak sisi sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat. Menurutnya, hal itu menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk memahami suatu peristiwa secara lebih utuh.
Di akhir kegiatan, Alfarel berharap forum semacam ini dapat membangun kebiasaan berpikir yang lebih terbuka di kalangan mahasiswa. Ia menilai kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif penting untuk menghindari cara berpikir yang linier.
"Ya harapannya kita bisa mulai untuk menanamkan kecenderungan untuk berpikir secara spiral dan multi-perspektif. Cobalah lihat dari sisi yang berbeda,” lanjut jelasnya.
Penulis: Tanu Hasyim
Editor: Ikhsan Tiaz Setiawan
Tags
warta