Sejumlah UKM/UKK Keluhkan Akses dan Expo PBAK, Begini Penjelasan Panitia

Sumber Foto: Nuria Febrianti

Cirebon, LPM FatsOeN - Sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) menyoroti pelaksanaan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 pada Rabu (26/8) hingga Jumat (28/8). Sorotan terutama berkaitan dengan akses mahasiswa baru menuju stand UKM/UKK yang dinilai kurang strategis, selain keterbatasan waktu penampilan, ukuran tenda, perubahan tata letak, serta pendampingan mahasiswa baru.

Ketua Umum UKM El-Fahd, Achmad Zamaludin Mubarok, menilai konsep penampilan dan expo UKM/UKK dalam PBAK 2026 belum cukup merepresentasikan organisasi kemahasiswaan yang diperkenalkan kepada mahasiswa baru.

“Penampilan/expo UKM yang terbatas, dengan konsep monolog hanya 5 menit dirasa kurang efektif, karena sangat kurang merepresentasikan UKM/UKK-nya,” kata Achmad.

Ketua Umum KPM, Muhammad Faiq Nizam, juga menyampaikan sejumlah persoalan terkait pelaksanaan expo. Ia menilai akses mahasiswa baru menuju stand cukup jauh dan sulit dijangkau dengan waktu yang tersedia berbeda dengan tahun sebelumnya yang lebih mudah di akses.

“Akses maba untuk ke stand cukup jauh, dan ya sulit dijangkau dengan waktu yang terbatas,” kata Faiq.

Menurut Faiq, ukuran tenda yang disediakan juga lebih sempit dari ukuran yang dijanjikan. Selain itu, sejumlah meja yang dibutuhkan UKM/UKK digunakan di bagian depan sehingga harus dicari kembali oleh masing-masing organisasi.

“Tenda yang dijanjikan ukuran 2x2, tapi lebih sempit. Kemudian meja yang dibutuhkan beberapa UKM/UKK digunakan di depan, sehingga harus mencari dulu,” tambah Faiq.

Faiq juga menyoroti perubahan tata letak stand. Menurutnya, layout yang sebelumnya dijanjikan berbentuk letter U berubah menjadi letter L sehingga ruang yang tersedia menjadi lebih sempit. Kondisi tersebut membuat UKM/UKK berinisiatif mengubah tata letak stand menjadi saling berhadapan.

“Realisasi layout stand yang dijanjikan letter U, tiba-tiba letter L, sehingga cukup sempit, dan UKM/UKK inisiatif mengubah layout berhadapan,” katanya.

Selain persoalan lokasi dan fasilitas, Faiq menyebut usulan mengenai mentor yang mendampingi mahasiswa baru untuk mengunjungi stand juga belum sepenuhnya terealisasi.

“Usulan/janji tidak tertepati soal mentor yang mendampingi maba untuk visit ke stand, realitanya beberapa stand tidak dikunjungi,” lanjutnya.

Koordinator Acara PBAK 2026, Muhamad Zaki Mubarok, mengatakan panitia telah beberapa kali menjelaskan kepada ketua UKM agar penjabaran mengenai organisasi disampaikan secara efektif dalam waktu tiga hingga lima menit di panggung. Sementara itu, anggota UKM dapat memperkenalkan organisasi secara langsung kepada mahasiswa baru.

“Beberapa kali meluruskan ketua UKM harus meringkas penjabaran UKM/UKK ini dan disampaikan seefektif mungkin 3-5 menit di panggung, sedangkan anggota UKM-nya bisa menghampiri maba langsung, tidak sebatas omongan belaka di panggung akan tetapi ada aksinya,” kata Zaki.

Terkait pemindahan stand, Zaki menjelaskan lokasi stand dipindahkan dari depan lapangan untuk mensterilkan akses jalan yang digunakan, termasuk untuk ambulans.

“Stand kami pindahkan dari depan lapangan supaya bisa steril untuk akses jalan, ambulans, dll., karena per hari ini ada beberapa mahasiswa yang membutuhkan akses jalan,” jelas Zaki.

Zaki mengatakan panitia sempat mempertimbangkan lokasi lain di belakang Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Namun, lokasi tersebut dinilai belum kondusif karena terdapat banyak barang dari gedung ICC yang sedang direnovasi. Menurutnya, lapangan basket menjadi pilihan karena keterbatasan tempat dan adanya aspirasi dari UKM/UKK agar stand tidak ditempatkan di depan lapangan futsal.

“Akses maba yang sulit menjangkau stand, sebetulnya ada beberapa opsi di belakang FITK, tapi masih belum kondusif karena banyak barang dari ICC yang sedang direnovasi, jadi satu-satunya cuma di lapangan basket karena memang tidak punya tempat lagi, dan atas dasar aspirasi dari UKM/UKK karena tidak kondusif jika di depan lapangan futsal,” jelasnya.

Keberadaan UMKM di sekitar lapangan atau venue menjadi salah satu persoalan yang disoroti karena stand UMKM berada lebih dekat dengan mahasiswa baru dan panggung dibandingkan stand UKM/UKK. Dari sisi panitia, penempatan UMKM di lokasi tersebut mempertimbangkan ketersediaan ruang.

“UMKM di dekat lapangan/venue karena lebih sedikit, jadi punya space buat di situ. Kalau UKM/UKK di venue situ bakal ga muat,” tambahnya.

Mengenai ukuran tenda, Zaki menjelaskan panitia hanya memperoleh alokasi 28 meter. Jika dibagi dengan ukuran 2x2 meter, kapasitas tersebut hanya mencukupi sekitar 12 hingga 14 UKM. Kondisi itu disebut berkaitan dengan efisiensi anggaran yang membuat panitia hanya dapat menyediakan tenda dalam jumlah tersebut. Rencana awal tata letak berbentuk letter U kemudian berubah menjadi letter L karena keterbatasan tenda.

“Mengenai tenda ukuran 2x2, dan beberapa meja UKM/UKK yang digunakan di depan berakhir harus cari lagi. Tenda diberi 28 m jika dibagi 2x2 hanya cukup untuk 12–14 UKM. Melihat budgeting yang terkena efisiensi jadi hanya bisa menyediakan segitu, awalnya letter U karena kurang tenda berakhir letter L,” kata Zaki.

Zaki menambahkan kampus tidak sanggup menyediakan anggaran lebih sehingga vendor hanya menyepakati atau menyediakan tenda sepanjang 28 meter.

Terkait pendampingan mahasiswa baru oleh mentor dalam safari UKM/UKK, Zaki mengatakan hal tersebut telah dikoordinasikan. Namun, pelaksanaannya mengalami kendala teknis dan menjadi bahan evaluasi bersama.

“Terkait mentor yang jadi tour guide, sudah dikoordinasikan akan tetapi realitanya cukup sulit dan menjadi evaluasi bersama, ada kesalahan teknis juga dan teman-teman acara sudah usaha dengan mengabsen mentor untuk safari UKM/UKK,” ungkap Zaki.

Penulis: Ikhsan Tiaz Setiawan 
Editor: Rahma Diniati

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama