PBAK Jadi Panggung Kritik, Mahasiswa FUA Bongkar Tiga Bobroknya Layanan Kampus

Sumber Foto: Annida Luthfiyah

Cirebon, LPM FatsOeN - Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab (FUA) menyampaikan kritik mengenai layanan poliklinik, sistem Mahad, dan jadwal perkuliahan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UINSSC hari ketiga, Jumat (28/8). Kritik tersebut disampaikan melalui orasi bersama saat penampilan yel-yel fakultas di hadapan seluruh mahasiswa.

Alih-alih menampilkan yel-yel fakultas, sejumlah mahasiswa FUA memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan persoalan yang mereka nilai perlu mendapat perhatian kampus.

Rosadi, mahasiswa FUA yang turut berorasi, mengatakan momentum PBAK dipilih karena kegiatan tersebut dinilai menjadi kesempatan strategis untuk menyampaikan isu kepada mahasiswa.

“Kita melihat dari segi momentum karena momentum PBAK ini sangat krusial dan sangat seksi kalau melihat dari segi kampusnya,” ujarnya.

Menurut Rosadi, penyampaian isu tersebut juga telah didiskusikan bersama mahasiswa baru FUA. Hal itu dilakukan agar mahasiswa baru tidak menjadi pihak yang dieksploitasi dalam penyampaian kritik.

“Kita sudah berdiskusi sama teman-teman maba buat mengangkat isu ini, karena ditakutkan kalau tidak ada sosialisasi atau diskusi terlebih dahulu nanti dianggap mengeksploitasi pihak maba,” katanya.

Dalam orasi tersebut, mahasiswa FUA membawa tiga isu yang mereka sebut sebagai tiga dosa besar. Isu pertama berkaitan dengan keberadaan poliklinik di lingkungan UINSSC.

“Di sini kita mengangkat tema tiga dosa besar yang pertama memang poliklinik, sangat disayangkan di sini tidak ada,” ujarnya.

Isu kedua berkaitan dengan sistem Mahad. Rosadi menyoroti pengelolaan keuangan serta pengelolaan pembelajaran di Mahad.

Menurutnya, terdapat persoalan dalam pengelolaan keuangan ketika pembayaran Mahad belum secara otomatis mengubah nilai mahasiswa. Ia juga menilai pengelolaan pembelajaran di Mahad perlu dievaluasi, termasuk metode pembelajaran yang diberikan kepada tutor Mahad.

“Lalu yang kedua memang dari sistem Mahad, untuk Mahad sendiri yang pertama dari pengelolaan keuangannya karena pengelolaan keuangan di Mahad ketika anak sudah bayar belum otomatis nilainya langsung berubah jadi sangat disayangkan,” tambahnya.

Rosadi juga menyoroti perbedaan metode pembelajaran yang diterapkan tutor Mahad. Sebagai mahasiswa Studi Tafsir, ia menilai perbedaan kemampuan membaca qiroat atau Al-Qur'an di antara mahasiswa semestinya tidak menjadi alasan untuk menyalahkan mahasiswa.

“Mengenai Mahad yang kedua pengelolaan pembelajarannya, ya mungkin ini perlu evaluasi total buat Mahad sendiri, metode pembelajaran kepada tutor-tutor Mahad silakan diserentakan, saya sendiri dari anak tafsir banyak teman-teman yang membaca qiroat atau membaca Al-Qurannya beda-beda itu malah disalahkan,” tuturnya.

Isu ketiga yang dibawa dalam orasi berkaitan dengan jadwal mata perkuliahan. Rosadi menyebut terdapat kasus di FUA mengenai dosen yang jarang masuk karena jadwal mengajarnya berbenturan dengan jadwal mengajar di fakultas lain.

“Yang ketiga kita membahas tentang jadwal mata perkuliahan yang bobrok, maksudnya jadwal yang rusak, kita menemukan kasus di FUA, jadi ada salah satu dosen yang dia jarang masuk dengan alasan bentrok jadwalnya dengan mengajar di fakultas lain,” tambahnya.

Dari tiga isu tersebut, Rosadi menyebut persoalan poliklinik menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan kesehatan mahasiswa.

“Mungkin buat perhatian utama, yang paling urgent adalah poliklinik, karena ini menyangkut dengan kesehatan,” ujarnya.

Rosadi juga menjelaskan alasan penyampaian kritik dilakukan dalam momentum PBAK. Menurutnya, momentum tersebut dipilih agar isu yang dibawa dapat memperoleh perhatian lebih luas dari mahasiswa.

“Ketika kita mau menghegemoni sebuah kelompok itu kita harus mencari titik momentum yang pas,” katanya.

Penulis: Ikhsan Tiaz Setiawan 
Editor: Rahma Diniati

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama