Di jalanan yang dulu berseri, taman kota merona,

Kini terhampar realita, duka dalam panorama.

Bunga-bunga indah berguguran, melukis kehampaan,

Ditutupi warna bendera, menyapa pemilu yang tengah berjalan.


Dahulu, jalanan itu adalah puisi nyata,

Aspalnya menyanyikan lagu perjuangan masa,

Namun kini, meriah terasa dalam hening gemuruh,

Bendera partai berkibar, menari di tiap angin berhembus.


Warna-warni rasa bersatu tergantikan senyap yang datar,

Dinding kota yang dulu mengisahkan sejarah,

Kini ditutupi oleh umbul-umbul ideologi,

Mengaburkan keindahan, memanggilmu dengan nostalgia.


Jalanan yang dulunya menari-nari seakan pesta,

Kini dipenuhi tanda dan simbol, menghentikan tarian masa.

Puisi jalanan terkekang dalam bingkai bendera,

Tersisa keheningan, di antara pawai demokrasi yang bergema.


Jalanan yang dulu penuh cita, kini terlihat lesu,

Goresan sejarah tergantikan oleh bendera berbagai ragam warna.

Puisi jalanan, seperti puisi hati yang meratap,

Tak lagi menceritakan kisah, tapi hanya diam dalam reruntuhan.


Namun, mungkin di balik kumuh dan keramaian bendera,

Masih terselip keindahan yang menantikan waktu.

Jalanan akan kembali bercerita, mencerahkan jiwamu,

Menghadirkan puisi indah di setiap langkah yang menyapa kembali pagi yang indah.


Penulis: Tina Lestari 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama