Foto: Gramedia
Persoalan mengenai kedisiplinan merupakan pokok persoalan klasik yang menjangkiti individu maupun komunitas organisasi. Kita pasti sepakat bahwa menciptakan sikap disiplin memerlukan usaha, latihan, dan waktu yang panjang. Perannya tidak perlu dibantah lagi; di tataran organisasi, sikap dan kerja disiplin merupakan alat ukur sekaligus cermin untuk menilai kualitas organisasi tersebut. Dari kedisiplinanlah organisasi akan memiliki rasa militansi dan keterpaduan dalam setiap gerakan. Inilah mesin penggerak yang mampu mengantarkan organisasi mencapai visi dan misinya.
Namun, realita di sekitar kita menunjukkan bahwa hidup disiplin, seperti datang tepat waktu saat rapat, amat jarang terjadi. Usaha untuk melahirkan kedisiplinan sering kali terasa pelik dan berakhir gagal. Kerap terjadi kasus ketika seseorang yang memiliki komitmen disiplin tinggi justru merasa “patah” saat usahanya tidak didukung oleh anggota lain yang tetap melanggengkan budaya tidak disiplin. Alhasil, upaya membangun kedisiplinan berujung pada kekecewaan yang pada akhirnya memadamkan semangat individu tersebut, hingga tradisi “ngaret” terus berlanjut tanpa henti.
Pandangan menarik untuk memutus rantai ini datang dari Pius Lustrilanang, tokoh kunci Aliansi Demokrasi Rakyat (ALDERA), sebuah organisasi besar era 1990-an yang gigih menyuarakan perlawanan terhadap penindasan rezim Orde Baru. Pius, yang kala itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, memandang disiplin bukan sekadar aturan formal, melainkan kebutuhan taktis demi kelangsungan hidup organisasi di tengah situasi politik yang represif.
Berdasarkan buku ALDERA: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993–1999 yang ditulis oleh Teddy Wibisana dkk., Pius menekankan bahwa kedisiplinan akan tumbuh jika individu memiliki kesadaran akan dua hal, yaitu sadar akan kepemimpinan dan sadar akan dedikasi dalam menjalankan tugas organisasi. Kesadaran kepemimpinan berarti setiap anggota harus memandang dirinya sebagai pemimpin yang berhak sekaligus bertanggung jawab menentukan arah organisasi. Dengan rasa memiliki (sense of ownership) yang tinggi, disiplin tidak lagi dirasa sebagai beban dari atasan, melainkan tanggung jawab pribadi terhadap tujuan kolektif.
Secara praktis, Pius menerapkan langkah-langkah konkret di ALDERA untuk membangun militansi tersebut.
1. Konsistensi Pertemuan
Melakukan pertemuan internal minimal satu kali seminggu dengan durasi maksimal dua jam. Pembatasan waktu ini penting agar setiap pertemuan berjalan efektif, padat, dan tetap menghargai waktu setiap anggota.
2. Ketepatan Waktu Tanpa Toleransi
Seluruh anggota wajib datang tepat waktu. Bagi Pius, ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan tertinggi terhadap perjuangan dan rekan sejawat.
3. Sanksi yang Tegas
Pius menerapkan sanksi bagi anggota yang melanggar. Misalnya, bagi yang datang terlambat akan dikenakan hukuman fisik berupa push-up atau squat jump sebanyak 10 kali atau hingga Pius merasa cukup. Sanksi fisik ini bukan bertujuan menyiksa, melainkan membentuk ketangguhan mental dan fisik anggota agar siap menghadapi tantangan di lapangan.
Melalui perpaduan antara kesadaran ideologis dan ketegasan praktis, ALDERA berhasil menjadi organisasi yang solid dan disegani pada masanya. Apa yang diajarkan Pius merupakan refleksi bagi kita hari ini. Jika para aktivis masa lalu mampu disiplin di bawah ancaman keamanan yang nyata, tidak ada alasan bagi kita untuk memaklumi budaya “ngaret” di masa yang jauh lebih merdeka ini. Disiplin adalah jembatan antara cita-cita dan pencapaian.
Penulis: Haerul Tamami
Editor: Ikhsan Tiaz Setiawan