(Ilustrator: Fauzan Alfani)


Tidak terasa tengah semester sudah saya lalui, begitupun dengan janji manis kampus tercinta yang masih terngiang dalam pikiran saya, kurang lebih seperti ini “Pengumpulan Nomor Telepon  yang akan disubsidi kuota terakhir pekan ini,” begitu kiranya setelah hampir 20 pekan lebih. Namun ternyata ungkapan tersebut hanyalah bualan semata, hanya janji manis pria saat pertama kali jatuh cinta pada kekasihnya.

Sampai pada tulisan ini ditulis kuota pembelajaran yang “mereka” janjikan tidak terlihat batang hidungnya, bahkan informasinya tenggelam bagai Titanic di lautan terdalam. Baik, saya akan mulai. Saya adalah salah satu mahasiswa kampus UIN Cirebon (masih dalam rencana UIN). Saya tidak ingin tulisan ini mewakili teman-teman mahasiswa lainnya. Adapun jika memiliki masalah yang sama, saya kira benar teori yang diungkapkan dalam buku Sapiens, “Semakin mengerucut masalah seseorang maka semakin umum pula.” 

Mahasiswa seperti saya mungkin harus bekerja ekstra untuk mendapat suplai kuota internet, saya rela memotong jadwal libur demi 1gb kuota yang habis dalam 3 hari untuk mengakses Google Meet,Google Classroom, WhatsApp Group, dan media pembelajaran lainnya. Terlepas dari itu berbagai macam upaya telah dilakukan DEMA dan SEMA, buktinya dengan adanya petisi yang disebarluaskan dalam snap WA, entah itu ditindaklanjuti atau tidaknya saya tidak tahu.

“Daftar Nomor Telepon yang akan disubsidi kuota” sebuah file yang dikirimkan dalam grup kelas hanyalah penenang bagai sabu yang dihisap untuk melupakan masalah sejenak bahkan mungkin membuat lupa selamanya. Ironi memang, padahal saya membayar UKT dengan Full Service tanpa potongan sedikitpun, karena persyaratan yang terlalu rumit.

Lupakan sejenak masalah subsidi kuota, mari beralih pada beasiswa, pada saat promosi kampus digencarkan program beasiswa ikut digaungkan, namun pada kenyataannya setelah masuk, info beasiswa hanya berkeliaran diseputar ormawa tidak sampai pada mahasiswa tukang tidur seperti saya, kalaupun sampai kepada saya dan saya ikut mendaftar beasiswa tersebut pasti akan tertahan oleh surat yang menyatakan “Surat Rekomendasi dari Kampus”.

Saya kira mungkin ini curhatan saya sebagai mahasiswa yang memiliki kebiasaan tidur, makan, dan main game, dan dengan diakhir dengan kata,“KAMPUS INI MILIK KITA,” tapi jangan kau bertanya apakah saya termasuk kita.

Penulis: Inisial A

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama